Blog Gizi dan Kesehatan

it's about your everyday life.
Your Ad Here
Tampilkan postingan dengan label keamanan pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keamanan pangan. Tampilkan semua postingan

Mengapa Melamin bisa ada di Susu?  


Melamin merupakan bahan pembentuk plastik yang mengandung kadar Nitrogen tinggi. Secara komersial melamin berbentuk bubuk. Didalam sistem pembelian susu segar dari petani, biasanya faktor yang diukur menjadi kriteria harga adalah kandungan proteinnya. Semakin tinggi kandungan protein dalam susu petani, maka harganya akan semakin tinggi.

Untuk mengukur kandungan protein ini, biasanya metode yang digunakan adalah mengukur kadar Nitrogen dalam sampel. kadar Nitrogen dalam sampel biasanya diasumsikan sama dengan kadar protein. Para petani/peternak ini ingin mendapatkan untung yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu mereka menambahkan air kedalam susu segar. Agar kandungan protein dalam susu campuran tersebut tetap tinggi, maka mereka menambahkan bubuk melamin kedalam campuran susu tersebut. Sehingga otomatis kandungan nitrogennya akan meningkat. Apabila dilakukan uji kandungan protein maka kandungan Nitrogen yang diasumsikan sebagai protein akan meningkat pula.

Sebelumnya belum pernah ada kasus pencemaran susu oleh melamin. Sehingga dari otoritas Badan Pengawas Makanan tidak menganjurkan pemeriksaan zat ini dalam susu. Sehingga keberadaan melamin dalam makanan dapat lolos. Namun dengan adanya kasus keracunan melamin dalam susu ini, maka uji terhadap melamin ini menjadi suatu keharusan yang mendesak.

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Tips Membeli dan Menyimpan Telur  

Bila kita membeli telur di pedagang yang ramai, jarang sekali kita mendapatkan telur lama ataupun rusak, karena stoknya cepat habis dan diganti yang baru. berbeda bila kita membeli dari pedagang yang relatif sepi, kita harus berhati-hati memilih telur. Berikut ini beberapa cara memilih dan menyimpan telur yang bisa kita jadikan pedoman.

Telur segar mempunyai kekentalan yang baik, sehingga kuning telur terletak di tengah. Makin lama larutan didalamnya, makin encer sehingga kuning telur bergeser ke tepi. selain itu kantung udara di bagian ujung membuat telur relatif kecil daripada telur segar, diameternya sekitar 1,5 cm.Kantong udara itu makin lama juga akan membesar. berdasarkan sifat itu, saat memilih telur segar kita bisa menggunakan cara:

  1. Telur diletakkan didepan cahaya dan diteropong isinya sambil berputar-putar. Apabila kuning telur bergeser, telur sudah kurang segar. Apabila kuning telur sudah pecah dan bercampur berarti telur sudah rusak
  2. Telur direndam dalam air tawar atau larutan garam 10% (1 sendok teh garam dalam 2 gelas air). Bila telur tenggelam, menandakan masih segar. Bila sedikit terapung, berarti kantong udara di ujung telur membesar menandakan telur sudah lama. Bila telur melayang dalam larutan, berarti telur sudah rusak
  3. Pengamatan kulit luar. Telur yang masih segar berwarna kulit cerah. Telur yang sudah lama biasanya mempunyai warna kulit kusam/keruh, juga mulai timbul bintik-bintik hitam yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur
Jika telur yang kita beli langsung kita gunakan maka penyimpanan telur tidaklah menjadi masalah. Lain halnya jika telur yang kita beli dalam jumlah banyak dan akan dipakai dalam kurun waktu yang cukup lama. Untuk itu perlu diperhatikan metode penyimpanannya agar telur-telur tersebut masih dalam keadaan baik sewaktu kita akan mempergunakannya.
  1. Sebelum disimpan, telur perlu dicuci dahulu untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang biasanya berada dari kandang. sebaiknya telur direndam dahulu, supaya kotoran mudah lepas. Pencucian/penggosokan yang berlebihan mengakibatkan kulit telur menipis dan mudah pecah. Selain itu, juga menyebabkan pelebaran pori-pori telur, sehingga bakteri mudah masuk dan merusak telur.
  2. Setelah dicuci, sebaiknya telur dicelupkan kedalam minyak parafin cair (suhu 60 derajat celcius). Kemudian diangin-anginkan sehingga terbentuk lapisan tipis yang bisa menutupi pori-pori kulit telur dan terhindar daris erangan bakteri.
  3. Atau bisa juga dengan cara telur dicelupkan kedalam air mendidih sebentar saja (sekitar 5 detik). cara ini membentuk lapisan tipis sekeliling kulit telur bagian dalam akibat satu lapisan tipis putih telur terkoagulasi. Lapisan itu juga berfungsi menutup pori-pori kulit telur.
  4. Selanjutnya, telur siap disimpan dalam lemari pendingin.
Sumber: Seri Iptek Pangan Volume 1: Teknologi, Produk, Nutrisi & Keamanan Pangan, Jurusan Teknologi Pangan-Unika Soegijapranata- Semarang

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

Tips Mencegah Diare (Keracunan Makanan)  

Hmmm...musim hujan sudah mulai turun, saluran air sudah mulai penuh dengan sampah-sampah yang hanyut dan di beberapa daerah sudah mulai banjir. Biasanya pada saat ini kasus diare akan banyak bermunculan. Penyebabnya adalah hygiene dan sanitasi yang kurang. Pada saat musim hujan, biasanya kualitas air minum menurun karena tercemar oleh bakteri dari sampah-sampah yang terbawa banjir.

Bakteri seperti Eschericia coli dan Salmonella adalah ancaman utama. Apabila mereka menempel pada bahan makanan, maka mereka akan berkembang biak dengan cepat. Dalam kondisi ideal bakteri-bakteri ini dapat membelah per 10 menit sekali, dan dalam waktu 4 jam, 1 bakteri akan membelah hingga mencapai jumlah 1,000,000 bakteri. Dengan jumlah yang cukup banyak tersebut, racun yang dihasilkan oleh bakteri akan cukup untuk menyebabkan kita mengalami diare, sakit perut, muntah-muntah hingga pusing. Namun jika daya tahan tubuh kita baik, tubuh kita dapat menangkalnya. Celakanya pada saat musim hujan ini, kondisi tubuh kita sering menurun. Sehingga kita perlu mewaspadai akan bahaya bakteri ini pada makanan yang kita makan.

Berikut tips untuk mencegah agar anggota keluarga kita tidak mengalami keracunan makanan (diare) pada musim penghujan ini:

  1. Masak makanan hingga matang. bahan makanan seperti daging, ayam, ikan dan telur merupakan bahan makanan disukai oleh bakteri karena tinggi kandungan karbohidrat dan proteinnya. Selalu masak bahan makanan tersebut hingga matang (minimal hingga suhu 70 derajat celcius).
  2. Jaga agar makanan tetap hangat, jika makanan sudah dingin dan akan dimakan sebaiknya dipanaskan kembali. Memanaskan makanan hanya boleh 1 kali saja. karena proses pemanasan hanya membunuh bakteri saja sedangkan racun yang dihasilkan oleh bakteri tidak dapat hancur oleh proses pemasakan.
  3. Sebaiknya gunakan pisau dan talenan yang berbeda untuk mengolah daging dan bahan makanan lain yang sudah masak. Daging mentah mengandung bakteri sedangkan makanan masak sudah bebas dari bakteri. jika menggunakan pisau yang sama untuk mengolah daging dan memotong makanan masak, dikhawatirkan bakteri dari daging akan mencemari makanan yang sudah masak. Begitu pula dengan talenan.
  4. Selalu cuci sayuran dan buah sebelum dimakan. untuk sayuran yang langsung dimakan, potonglah akarnya, kemudian potong-potong baru dicuci. saat ini telah tersedia produk khusus untuk mencuci sayuran dan buah. gunakanlah produk ini untuk mencuci sayuran dan buah yang akan langsung dimakan. pada sayuran biasanya di akarnya banyak mengandung bakteri E. Coli.
  5. Jika menggunakan air untuk memasak, didihkan terlebih dahulu air tersebut. agar bakteri dalam air mati.
  6. kadang kasus keracunan makanan juga diakibatkan karena yang memasak makanan juga ikut mencemari makanan. sebaiknya selalu cuci tangan sebelum mengolah makanan, setelah memegang daging dan sayuran, setelah dari toilet, dan setelah dari luar rumah. Cuci tangan yang baik dilakukan minimal selama 15 detik menggunakan sabun.
  7. Serangga dan tikus. lakukan pest control (pembasmian serangga dan tikus) pada rumah anda. hewan-hewan tersebut selain menjijikkan juga banyak membawa kuman penyakit. jaga kebersihan rumah dan buang sampah. perhatikan juga kebersihan lingkungan rumah anda
  8. Jangan membeli makanan di luar rumah jika tidak yakin dengan kebersihannya.
Disarikan dari Codex (Code of Practice General Principles of Food Hygiene 2003)

Read More...
AddThis Social Bookmark Button

BAHAN KEMASAN MAKANAN  

Setiap bahan makanan mempunyai daya tahan yang terbatas sebelum ia mengalami proses pembusukan. Untuk itu berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan usia pakai dari bahan makanan. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui proses pengemasan. Terdapat berbagai bahan/material yang dapat digunakan sebagai kemasan makanan. Penggunaan material yang tepat dapat mempertahankan usia pakai dari bahan makanan, namun penggunaan material yang salah juga dapat mempercepat usia pakai dari makanan tersebut, bahkan dapat menimbulkan bahaya kesehatan bagi konsumen makanan.

Berbagai jenis bahan kemasan makanan antara lain:

KALENG. Kaleng dapat dipergunakan sebagai bahan pengemas makanan yang aman, selama kaleng tersebut tidak berkarat, tidak penyok dan tidak bocor. Apabila kita akan mengkonsumsi makanan yanga ada dalam kaleng ini, maka perlu dilakukan pemanasan ulang. Yakni kurang lebih 15 menit untuk menghindarkan adanya bahaya E-coli yang sangat mematikan.

Gelas. Gelas merupakan bahan pengemas yang aman. Gelas banyak digunakan untuk mengemas minuman ataupun makanan yang telah diproses melalui proses fermentasi seperti acar, taoco, kecap, dan lain-lain.

Kertas. Kertas paling banyak digunakan untuk membungkus makanan dari makanan gorengan sampai makanan yang memerlukan penyimpanan lama seperti teh celup dll. Beberapa jenis kertas yang sering digunakan adalah kertas koran, kertas nasi yang dilapisi plastik serta kertas yang telah mengalami pemutihan.

Kertas yang biasa dipakai untuk mengemas gorengan biasanya digunakan kertas koran. Secara tidak sadar kertas koran ini mengandung tinta yang bersifat larut. Padahal tinta tersebut banyak mengandung timbal (Pb) yang sangat bahaya bagi kesehatan.

Bila timbal tersebut terakumulasi dalam tubuh maka akan menyebabkan gangguan saraf dan bahkan dapat menyebabkan kanker. Pada suatu penelitian, wanita hamil yang banyak terakumulasi timbal ini akan menyebabkan cacat bawaan pada janin dan merusak otak sehingga akan mempunyai kecerdasan yang rendah.

Pada laki-laki, timbal akan menyebabkan penurunan kualitas sperma sehingga dapat menyebabkan kemandulan.

Kertas yang telah diputihkan sering digunakan sebagai pembungkus teh celup. Kertas ini berbahaya karena sudah ditambahkan bahan pemutih (chlorine). Bila terkena suhu tinggi akan menghasilkan dioksin, suatu senyawa racun yang berbahaya bagi kesehatan kita. Tahun 1998 WHO menetapkan ambang batas aman konsumsi dioksin, yaitu 1-4 pikogram (sepertriliun gram) dioksin per-kilogram berat badan.

Dalam jumlah sedikit saja sudah sangat berbahaya, apalagi bila dalam jumlah besar maka dioksin akan bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Konsentrasi lebih tinggi lagi akan menyebabkan penyakit kulit chloracne (jerawat yang parah disertai dengan erupsi kulit dan kista).

Selain itu dioksin juga akan menyebabkan penurunan hormon reproduksi pria hingga 50% dan menyebabkan kanker prostat dan kanker testis.

Pada wanita dioksin akan menyebabkan kanker payudara dan endometriosis, yakni jaringan selaput lendir rahim yang masih berfungsi tumbuh di luar rongga rahim. Oleh karena itu untuk menghindarkan hal-hal di atas bila tidak terpaksa gunakan teh (teh tubruk) secara langsung, dan gunakan pembungkus yang aman seperti daun pisang dan aluminium foil.

Plastik. Bahan pengemas yang mudah didapat dan sangat fleksibel penggunaannya adalah plastik. Selain untuk mengemas langsung bahan makanan, seringkali digunakan sebagai pelapis kertas.

Plastik yang dikenal adalah Polyethylene, Polypropylen, Poly Vinyl Chlorida (PVC), dan Vinylidene Chloride Resin. Secara umum plastik tersusun dari polimer yaitu rantai panjang dan satuan-satuan yang lebih kecil yang disebut monomer. Polimer ini dapat masuk dalam tubuh manusia karena bersifat tidak larut, sehingga bila terjadi akumulasi dalam tubuh akan menyebabkan kanker.

Masing-masing jenis plastik mempunyai tingkat bahaya yang berbeda tergantung dan bahan kimia penyusunnya, jenis makanan yang dibungkus (asam, berlemak ), lama kontak dan suhu makanan saat disimpan. Semakin tinggi suhu makanan yang dimasukkan dalam plastik ini maka semakin cepat terjadinya perpindahannya.

Hal ini ditandai dengan menjadi melemasnya plastik pembungkus tersebut (untuk membungkus mie ayam, bakso panas dll).

Sayur bersantan, susu dan buah-buahan yang mengandung asam organik sebaiknya tidak dibungkus plastik dalam keadaan panas, ataupun kalau terpaksa jangan digunakan terlalu lama. Plastik ini boleh digunakan jika bahan yang dimasukkan dalam keadaan dingin.

Dari beberapa jenis plastik di atas yang relatif lebih aman digunakan untuk makanan adalah Polyethylene yang tampak bening dan Polypropylen yang lebih lembut dan agak tebal.

Sedangkan Vinylidene Chloride Resin dan Poly Vinyl Chlorida (PVC) bila digunakan mengemas bahan yang panas akan tercemar dioksin, suatu racun yang sangat berbahaya bagi manusia.

Dioksin ini bersifat larut dalam lemak, maka terakumulasi dalam pangan yang relatif tinggi kadar lemaknya. Kandungan dioksin tersebar (97,5%) ke dalam produk pangan secara berurutan konsentrasinya yaitu daging, produk susu, susu, unggas, daging babi, daging ikan dan telur. Oleh karena itu penggunaan plastik ini sering digunakan sebagai pembungkus permen, pelapis kertas nasi dan bahan penutup karena amat tipis dan transparan.

Styrofoam. Yang sering dikenal sebagai gabus ini digunakan untuk mengemas makanan instan, atau makanan siap saji. Wadah ini banyak disukai karena ringan, tahan bocor dan dapat menahan panas sampai beberapa waktu.

Namun yang perlu diingat styrofoam ini merupakan bahan yang terbuat dari foamed polistirenpolistiren. Yakni suatu jenis plastik yang mempunyai ciri ringan, kaku, rapuh dan tembus cahaya. dengan bahan dasar

Bahan ini kemudian dicampur dengan karet sintetis (butadiena) sehingga warnanya menjadi putih susu. Agar lebih lentur dan awet, ditambahkan zat plastizer seperti dioktiplatat (DOP) dan butil hidroksi toluena (BHT). Kandungan zat pada proses terakhir inilah menurut penelitian kimia LIPI dapat memicu timbulnya kanker dan penurunan daya pikir anak.

Selain itu bila pengemas ini digunakan untuk mengemas makanan bersuhu tinggi, maka kandungan kimianya dapat terurai dan masuk terakumulasi dalam tubuh.

Ambang batas stiren di dalam tubuh sangat sedikit, sehingga bila melebihi batas maka akan mengakibatkan gangguan-gangguan saraf seperti kelelahan, nervous, sulit tidur dan anemia serta kesuburan menurun.

Di negara-negara maju seperti Jepang dan negara Eropa pengemas ini sudah dilarang, sedang di Cina masih menjadi polemik. Tidak diperbolehkannya dipergunakan selain alasan yang berhubungan dengan kesehatan juga berhubungan dengan pemusnahannya yang sangat sulit membusuk.

sumber: Harian Suara Merdeka

Read More...
AddThis Social Bookmark Button